Nikmat Suatu Persahabatan Sebenarnya dilihat dari ketulusan hati dan kesediaan mau berkorban bagi orang lain. Bukan titik yang menyebabkan tinta, melainkan tintalah yang menyebabkan titik, bukan cantik yang menyebabkan cinta, melainkan cintalah yang menyebabkan cantik.

Tutorials

Original Tutorials untuk membantu mengatasi masalah komputer, virus dan men-desain tampilan blog, ide, inspirasi, resources, filsafat
Tengok ke dalam

Artikel

Artikel yang baru-baru ini ditulis berdasarkan hasil pengalaman jalan jalan di akhir pekan...
Artikel Jurnal

Status

Aku menganggap diam sebagai perniagaan. Meskipun tak ada untungnya, paling tidak aku tak merugi. Diam ibarat barang niaga yang membawa banyak keuntungan bagi pemiliknya.

Apa yang menarik hari ini ?

Monday, 6 June 2016

The Crossing


Termasuk Kategori

Ayahnya meninggal karena TBC, sejak saat itu hidupnya menjadi melarat. Walau hidupnya melarat, ibunya melarang untuk meminjam uang kepada tetangga. Ibunya lebih memilih untuk menjual pianonya untuk kebutuhan hidup. itulah petikan percakapan dalam film The Crossing Part I, Celestial Movies.


Ini untuk mengingatkanmu.

Membaca selengkapnya...

by Novan D. Cahyono 0 comments

Thursday, 3 March 2016

Pendakian Gunung Merbabu Via Suwanting Februari 2016 Hujan


Pendakian Gunung Merbabu Via Suwanting
Pada tanggal 27 Februari, saya menuju sebuah Gunung yang bernama Merbabu. Di sini seseorang tour dari kami-yang mempunyai pokok rencana pendakian-sengaja memilih pendakian lewat jalur suwanting. Sebagai orang yang diajak-saya-manut manut saja karena saya cukup menikmati perjalanan mendaki gunung. Pagi harinya setelah tiba di stasiun tawang setelah menaiki kertajaya tambahan, kami ber empat orang-2 cewek dan 2 cowok- dijemput oleh 5 orang teman kami yang lebih dulu tiba di kota semarang. 5 orang ini adalah preliminary sebagai sarana persiapan. Setelah beres-beres kami menuju ke kabupaten magelang, bernama muntilan. Disinilah sebagian gunung ini kami tuju, dan disinilah jalur suwanting berada. Perjalanan ini melewati setidaknya 3 kota, kota semarang, kota salatiga, kota magelang. Perjalanan kami memakai sebuah mobil pribadi yang ber-plat B dan sebuah mobil rental berplat nomor H. Seperti biasa, perjalanan sangat mengasikkan, perjalanan melewati tiga kota ini akan disuguhkan pemandangan dan kearifan lokal yang sangat identik dengan wilayah masing-masing. Bagi orang jakarta yang setiap hari menikmati hutan beton sungguh merupakan momen yang patut disyukuri apabila melewati daerah dengan kekayaan tumbuhan hijau di sisi kiri-kanan saat melakukan perjalanan mobil. Namun, akan biasa saja bagi saya yang memang kampung saya dengat dengan gunung bromo, Pasuruan Jawa Timur.
Awalnya kami mencoba untuk mendiskusikan bagaimana rute perjalanan menggunakan angkutan umum, istilahnya “nge-teng”. Namun kami memutuskan dengan tepat dengan membawa mobil sendiri menuju ke base camp jalur pendakian suwanting. Yang jelas. Setelah kita melaksanakannya, perjalanan dengan mobil adalah pilihan sangat benar karena untuk memakai sarana umum akan sangat kesulitan-tidak seperti menuju ke gunung semeru-disebabkan angkutan umum menuju kesana hampir jarang ditemukan atau nihil. Estimasi perjalanan adalah 2 jam lewat tol dari stasiun semarang tawang menuju jalur pendakian suwanting.
Setibanya kami disana, kami disambut dengan warga sekitar, mobil kami diparkir-biayanya 10 ribu untuk sekali parkir-di sekitar hunian warga yang sempit. Disana akan di brieving oleh pawang gunung sampai kita mengerti medannya. (disini usahakan kita mencatat setiap jalur yang akan ditempuh, mencatat juga perkiraan waktu tempuh antara pos/lembah yang satu dan yang lain, karena untuk manajemen waktu.) di tempat ini manfaatkan waktu untuk menyiapkan semuanya seperti mental, peralatan, baju maupun makanan. Saran saya, untuk pendakian gunung merbabu ini hindari membawa banyak barang bawaan, makanan terlalu banyak, dan air terlalu banyak. Saya hanya menyarankan membawa baju kering hangat untuk tidur, baju perjalanan yang mudah kering, dan trecking pole.
Setidaknya membawa air untuk satu orang adalah maksimal 1,5 liter. Karena di tengah perjalanan ada mata air.

Perjalanan kami setidaknya dalam kondisi tidak normal, dalam artian hujan sepanjang hari. Beginilah kondisi medan saat tidak hujan:
“saat tidak hujan, jalur suwanting cocok digunakan untuk pendaki yang memang ingin suasana trecking / bukan pemula. Karena jalurnya kebanyakan curam naik ke atas terus, sangat sedikit dan hampir tidak ada turunan sewaktu hiking. Untuk pemula sebaiknya mencari jalur selo atau yang lain”
Kondisi saat hujan :
“saat hujan-yaitu perjalanan kami-jalur yang menanjak naik seperti sungai kecil. Air meluncur deras dan menakutkan jika dilakukan oleh pemula, kondisi jalur adalah 100% tanah tidak ada pasir/batu seperti di gunung semeru. Jalur tanah licin, becek, dan kotor. Selain itu suhunya meskipun tidak terlalu dingin seperti pada musim kemarau, cukup membuat mental jatuh saat tidak siap dengan kondisi hujan. Perjalanan dalam kondisi hujan kami berangkat dari base camp suwanting pukul 12.00 WIB s.d. mencapai pos 3 pukul 21.00 WIB malam.”
Melihat kondisi di atas, tentu kita mengalami cukup banyak hambatan di jalan. Hambatan ini seperti 3 dari 9 kami berhenti di tengah jalan karena kurang sehat, saat tengah malam, dengan jarak tempuh 1,5 jam sebelum mencapai pos 3(tempat paling bagus untuk mendirikan tenda). Nesting kami bawa semua menuju pos 3 sedangkan perbekalan makanan di bawa oleh salah seorang dari 3 orang. Sehingga kami makan dengan apa yang kami bawa-meskipun itu makanan pokok cukup banyak-akan tetapi, 3 orang yang memutuskan berhenti di tengah jalan ini membawaa seluruh pasokan makanan dan celakanya mereka tidak membawa nesting. Sehingga penyebab dari hambatan tersebut adalah :
  1. Pembagian logistik tidak merata,
  2. Terlalu banyak membawa logistik sehingga banyak yang kami buang,
  3. Kurang persiapan fisik sebelum pendakian
  4. Kesiapan mental kurang-untuk melawan kondisi hujan
  5. Perbekalan hujan kurang lengkap untuk mengatasi dampak hujan yang terjadi
  6. Banyak pendaki dari kami yang belum cukup berpengalaman untuk naik gunung.

Hambatan pertama, logistik tidak merata yaitu kami tidak memperhitungkan apa yang terjadi di atas sehingga saat panik ada yang memutuskan melanjutkan perjalanan dan ada yang berhenti di tengah jalan, kita terlena dengan barang bawaan logistik. Kami membawa alat masak namun tidak membawa makanannya.

Hambatan kedua karena kami tidak memperhitungkan akan terjadinya hujan, ternyata kita malah malas untuk memasak di tempat peristirahatan sehingga banyak yang kami buang, namun ini masih baik daripada kekurangan makanan.

Hambatan ketiga dan keempat, memang disadari atau tidak termasuk saya sendiri kurang mengadakan latihan fisik

Hambatan kelima, saat terjadi hujan, antisipasi pendaki kurang, terutama dalam hal baju ganti dan menjaga kondisi suhu tubuh untuk melawan basah keringat dan hujan dengan suhu dingin.

Untuk yang terakhir ini. Memang susah, karena disaat yang paling kotor sekalipun karena hujan atau tidak, tempat peristirahatan maupun tenda untuk tidur diupayakan untuk tetap nyaman dan bersih. Disini kemampuan untuk mendirikan tenda yang cepat tanpa menimbulkan tenda banjir karena kurang cepat mengembangkan tenda, atau memilih lokasi yang baik dengan kondisi yang buruk sekalipun untuk tempat darurat.

Terlepas dari hambatan tersebut di atas, ternyata banyak sekali hal-hal yang menjadi pengalaman menarik untuk di ulang-ceritakan, kejadian saat hujan, kejadian saat beberapa memutuskan untuk berhenti dan kembali, kejadian untuk tetap berada di tengah jalan, kejadian saat berada di pos 3, cerita dari orang yang sudah mencapai puncak dan lain-lain.

Keputusan untuk naik saat hujan sangat tidak dianjurkan, ini hanya boleh dicoba untuk orang yang sudah berpengalaman dan mau naik saat hujan. Saat hujan, kondisi tubuh yang kedinginan seringkali menyebabkan orang mendapatkan gejala hipotermia yang menandakan kondisi tubuhnya tidak mempu melawan hawa dingin dari luar tubuhnya.

Cerita kami :
Saat melanjutkan di pos bendera yang saat itu dalam perjalanan curam menanjak, ada satu orang anak kuliahan dari fakultas kesehatan turun sendirian dan berpapasan dengan kami, karena saya berada di posisi paling depan saya menanyakan jarak tempuh menuju pos 3. Yang katanya masih 1,5 jam lagi. Dalam kondisi jalanan becek baru saja hujan. Waktu menunjukkan pukul 18.30. anak itu memberi tahu medan yang nantinya akan kami lewati, mungkin gayanya seperti melaporkan ini membuat sebagian mental kami menjadi kendor. Benar juga saat naik ke atas kami bertemu dengan kelompok lain yang nampaknya sedang mendirikan tenda darurat. Setelah kami cek ternyata satu orang di kelompok itu menderita hipotermia-seperti mau mati. Akhirnya disadari atau tidak dalah satu dari kami memutuskan untuk bergabung dengan tenda mereka (seseorang kami yang baru naik gunung dan mendapat pengalaman pertama terkena hujan-hahaha). Karena kami cukup korsa, akhirnya 2 teman kami menemaninya. Sehingga total 3 orang yang berhenti di tengah jalan. Selainnya tetap melanjutkan perjalanan. Perjalanan gelap becek curam menanjak akhirnya kami menemukan mata air-yang ditandai dengan pipa putih-dengan 2 galon air besar satu biru dan satu hitam. Melanjutkan perjalanan dengan mencari jejak jejak sepatu, YANG HARUS DIWASPADAI ADALAH, SETELAH MATA AIR INI BANYAK PENDAKI AKAN MENDAPATI JALUR YANG CUKUP BANYAK DAN BISA SAJA MEMBUAT TERSESAT. Arah yang benar adalah menuju ke kanan lalu naik sampai dengan mendapati pipa putih melintang di depan, kita lalu melewati pipa yang melintang itu memotong arahnya, jangan mengikuti kemana pipa itu pergi! Hingga sampai pada pos 3 dan mendirikan tenda.

Pagi harinya kami mendapati orang orang yang ternyata adalah sebagian kelompok yang temannya mengalami hipotermia tadi, ada juga 2 orang pendaki yang mempunyai perkiraan pendakian naik turun hanya 2 hari satu malam-karena kondisi hujan- sehingga molor menjadi 3 hari 2 malam. Setelah saya memutuskan bertanya kepada beberapa orang tentang keadaan puncak kami memutuskan untuk turun pukul 10 Siang dan tidak menuju kepuncak (sayang sekali). Kabut dan hujan membuat kami kurang bisa menikmati pemandangan alam. Jarak hanya 10 meter! Kami turun dan mendapati di bawah--di tempat 2 teman kami dengan keputusan 2 orang itu--ternyata menunggu kami karena makanan. Alhamdulillah karena selanjutnya kami masak di tempat itu. Dan kami akhirnya turun sampai ke base camp.

Lalu apa yang terjadi dengan 1 orang teman kami dan rombongan hipotermia tadi ?
Mereka turun pukul 7 malam kemarin dengan terlebih dahulu meminta bantuan dari basecamp, 2 orang dari basecamp—seorang pawang gunung, dan seorang anak gunung—untuk secepatnya datang. Dan benar saja mereka menuju pos 2 dari base camp hanya 45 menit dengan  kondisi hujan dan gelap.

Apa yang sebenarnya membuat seorang dari kelompok itu hipotermia ? ada sebuah kearifan lokal yang dipercaya harus dilakukan pada saat berada di lokasi tertentu, yaitu saat di hutan pinus (lembah gosong) dan di lembah manding. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, 2 tempat itu adalah gerbang menuju kerajaan jin dan setan, sehingga pawang gunung mewanti-wanti kita untuk selalu permisi sebelum melintasi tempat itu. Mereka sebenarnya juga tidak memberi saran untuk mendirikan tenda di 2 hutan tersebut. Dan secara umum juga kita harus menjaga lisan kita dari berbicara yang tidak baik maupun mengeluh. Mitos yang kami terima bahwa ada suatu pohon dengan batang menjalar yang bila kita duduki maka teman kita yang menjadi sasaran. Pernah juga ada suatu kejadian 24 orang kesurupan di lembah manding. Terlepas dari kemistisan itu kita percaya atau tidak, wallahualam. Namun singkat cerita, menurut penuturan seorang teman kita yang menjadi saksi peristiwa, bahwa memang di tengah-tengah perjalanan si anak penderita hipotermia-yang hampir mati ini, yang sampai badannya sudah diganti dengan 2 temannya dan juga sudah diganti bajunya basahnya (kering)-pernah mengucapkan kata-kata yang mungkin memicunya pada keadaannya sekarang. Saya sampai merinding!.

Itu saja, selama perjalanan sampai dengan pos 3 dengan kondisi dingin dan hujan-sehingga baju kami basah oleh keringat maupun air hujan-kami tidak mendirikan tenda dan langsung jos dengan pertimbangan bahwa ketika suhu badan menurun, capek, kita harus berhenti seminimal mungkin (menghindari hipotermia) dan diupayakan untuk cepat sampai karena jika kita terus berjalan maka kita bisa menjaga suhu tubuh tetap normal dan dengan sampainya kita menuju pos 3, kita bisa mendirikan tenda dan mengganti baju basah kita yang kering serta mendirikan perapian untuk menghangatkan badan.

Sekian

Membaca selengkapnya...

by Novan D. Cahyono 0 comments

Wednesday, 27 January 2016

Aliran Radikal yang memicu konflik horizontal


Termasuk Kategori

Lagi lagi saya menulis tentang opini pribadi.

      Entah kenapa akhir-akhir ini saya tertarik untuk membicarakan mengenai ilmu sejarah, pengetahuan sosial, ilmu religi, sosialita kehidupan ibukota, pengaruh budaya metopolitan bagi kaum urban, pengaruh posisi bermukim bagi kondisi jiwa masyarakat modern, dan beberapa hal setentangnya. Namun kemudian, terbesit pandangan bahwa ide untuk menorehkan hal-hal tersebut dalam dunia tulis menulis ini cukup membutuhkan ruang dan waktu yang tidak singkat. Model ilmiah seperti ini sudah banyak ditulis dari penelitian anak-anak kampus lulusan universitas demi mendapatkan Nilai Skripsi yang baik, tulisan yang dimuat di media-media untuk bekal tambahan meraih pendidikan profesi (Professor).

      Dalam pada itu, ternyata mengerucut pada satu ide, lagi-lagi tentang ilmu religi, disini pandangan bahwa akhir-akhir ini terdapat berbagai fenomena yang itu menarik menurut televisi swasta yang materinya selalu diulang. Fenomena tersebut sangat faktual. Fakta yang baru dan menarik. Katakanlah kejadian BOM di sarinah.

Membaca selengkapnya...

by Novan D. Cahyono 0 comments

Tuesday, 12 January 2016

Mengapa Saya Menghindari Hutang dan Kartu Kredit


      Sebenarnya judul ini saya ambil dalam rangka bahwa saya yakin untuk membeli barang tersier itu tidak perlu memakai hutang, tidak perlu menjaminkan SK CPNS kepada Bank untuk memperoleh uang. itu adalah tindakan tergesa-gesa untuk memiliki sesuatu dan itu mencirikan kepanikan. Wallahualam. walaupun menjadi seorang Pegawai Negara itu ada adagium seolah-olah tidak boleh kaya, karena kalau kaya biasanya dipradugai rasuah, hutang semaksimal dihindari. Saya tidak perlu melakukan itu. Dan saya tidak butuh itu. Masih banyak pilihan yang bisa kita gunakan untuk memperoleh dana selain dari bank!. Misalnya menjadi pedagang. dan lain lain. Kartu Kredit juga memiliki dampak yang kurang bagus bagi kesehatan mental. 
      Berbicara masalah hutang dan kartu kredit tiba-tiba saya melintas yang akhirnya menjadi tertarik dengan artikel yang di tulis pendiri mmm ini Sergey Mavrody. Dia berasal dari Rusia. dia dianggap penipu ini ternyata seorang yang cerdas. saya tertarik dengan pengetahuannya akan ekonomi Barat ini meskipun ia terlalu membenci untuk itu (sistem keuangannya). ya Ekonomi kapitalis. Ekonomi ini diajarkan di 100% seluruh perguruan tinggi di indonesia yang mengambil mata kuliah makroekonomi dan setentangnya. memang ideology bangsa amerika yang mereka peroleh dari pemikirnya yaitu Adam Smith dan John Maynard Keynes ini mempunyai teori menurut penelitian mereka sendiri. bahwa keuangan menurut mereka intinya ada pengaruh Interest (Bunga). selain itu mereka secara tidak langsung harus berebut dan menghargai mahal terhadap sumber daya yang menurut aliran klasik itu (scarce) terbatas. orang yang kaya bertambah kaya, yang miskin tambah terpuruk. kapitalisme ini musuh bebuyutannya waktu itu ya sosialisme komunisme. Oke. Bunga itu Riba kan, orang yang spaneng syariah akan suka sekali menghina para bangkir. kalo yang sampai menghina itu tanpa ada solusi yang nyata hanya nyebarkan doktrin lewat youtube, ya model-model wahabi ini. saya bukan tak suka pengikutnya, saya hanya tak suka model dakwahnya dan doktrinnya. semoga pemahaman saya keliru. jika memperhatikan, ada suatu hadis, "sejauh apapun seseorang berusaha menghindari riba, pasti akan kena debunya". semoga hadis shahih. nah loh.
      Oia, menyambung tentang konsep kapitalis, para pengikut yang masih belajar ekonomi di Negara Paman Sam itu memikirkan bahkan di Indonesia sendiri berusaha untuk belajar mengenai cara memproduksi uang atau bahasa lembutnya menghasilkan uang. Namun kemudian, bagaimana mereka menghasilkan uang ini yang yang sebenarnya tidak dipandang sebagai cermin dari bekerja keras. boleh dibilang menipu diri sendiri. 

istilahnya adalah : 

"menghasilkan uang dari uang orang lain."

kata-kata ini saya mengutip dan mengalih bahasakan dari nasehat orang tua kepada anaknya. orang tua itu sangat terenal. orang Amerika yang sadar.

seperti inilah artikel tersebut.

=====================================
Tidakkah anda tahu? Selain itu, mungkin, anda bertanya-tanya dalam hati saat ini, dengan membaca semua ini : "Yah ... Banker dan pekerja...pekerja keras yang sederhana seperti saya atau seperti tetangga saya Johnny! Hmm ... itu tidak bisa dibandingkan. Banker adalah bank, uang, relasi dan kontak! Tapi siapa kita dan siapa Johnny? Bukan siapa-siapa! Secara alami, para bankir hidup lebih baik daripada kita."

Membaca selengkapnya...

by Novan D. Cahyono 0 comments

Saturday, 28 March 2015

Sosok Teladanku, Kandungku


Aku memanggilnya Bapak, karena memang itulah panggilan yang pantas untuknya, tidak berlebihan. Namun panggilan itu juga tidak menunjukkan kasta yang bawah. Suatu panggilan yang dirasakan begitu akrab, hangat dan mempu menggetarkan hati saat kita menyebutkan hanya untuk beliau. 

Mempunyai seorang Tauladan yang baik adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Terkadang rasa beruntung itu patut disyukuri dengan rasa rindu yang tinggi. Entah apa sebutannya yang paling pantas bagi seorang tauladan. Yang paling penting hakikat seorang contoh itu bisa menjadikan role model yang melekat di ingatan kita, sehingga kita merasa harus menirunya karena kelakuannya: gayanya berjalan; tenangnya berbicara; memberi nyaman dari sentuhan nasihatnya; dan yang paling tidak bisa dipungkiri adalah kasih sayangnya. Aku mendapat “sesuatu” yang harus aku terjemahkan menjadi sebuah tulisan kali ini. Dalam kalimat kedua terakhir, saya rasa kasih sayang itu sesuatu yang terbatas. Terbatas hingga mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mendapatkan keberuntungan berupa kasih sayang dari Seorang Ayah. Aku mungkin menjadi salah seorang yang beruntung. Ayahku masih bernafas di dunia ini. Itu juga artinya Beliau bisa melihatku melenggang sampai sejauh ini. Tetapi ingat kasih sayang yang terbatas ini bukan berasal Sang Pencipta. Karena Tuhan Kasihnya tak terbatas.

Tidak banyak orang yang akan mengabadikan biografi ayahnya sendiri. Krisis waktu dan kurangnya pemahaman tentang cerita dari orang ketiga, kasih sayang langsung dari seorang ayah, maupun masalah dan dinamika keluarga yang terjadi membuat seseorang enggan untuk membuat sejarah itu kembali dituangkan dalam dunia tulis menulis. Sejarah yang ditulis itu sangat penting. Manfaatnya kita dapat mengenang seseorang yang telah mempunyai andil besar adanya kita di dunia ini, anak cucu kita dapat membayangkan seorang kakeknya hanya dengan membaca apa yang telah kita dokumentasikan. Sayangnya Aku juga belum mengetahui sosok kakekku dulu yang katanya seorang pejuang dan seorang tukang becak. Begitu juga dengan buyutku. Silsilah keluarga Ibuku, menurut penuturan “Pak lek” memang berasal dari salah satu Wali songo di Jawa Timur. Namun terputus karena Ibuku. Silsilah hanya dapat dilanjutkan oleh keluarga laki-laki saja. Sekarang, janganlah kita tambahi cerita kita dengan rincian yang tak perlu.

Mari kuceritakan tentang Biografi Bapak Saya. Biasanya saat aku bertemu dengan Saudara, ataupun saat berbincang dengan ibuku aku selalu menggalih apakemampuan Bapakku di masa yang lalu atau menanyakannya secara langsung. Ini Aku lakukan agar aku paham siapa orang tuaku itu. Satu hal yang tidak bisa aku pungkiri adalah aku terlalu segan untuk membantah Perintah Bapakku. Padahal, tidak seperti kebanyakan orang tua, bahkan dia hanya berbicara pelan dan tulus seperti sedang tidak melakukan perintah. Beliau juga jarang membentak-bentak. Namun perintahnya langsung nancap di hatiku. Ayahku semasa muda adalah anak kelima dari 11 orang bersaudara. Pada zaman-zaman orde lama yang tidak enak. Beliau berfikir untuk bekerja menjadi seorang kuli. Saat itu seusia SMA mungkin, rumah Bapak pas berhadapan dengan rumah temannya KH. Akhathath (mantan ketua HTI, sekarang Sekjen FUI) seorang yang sangat cerdas saat muda dan tidak mau bergabung dengan kemenag meski waktu itu ditawari masuk tanpa tes, dengan alasan banyak praktik korupsi. Seorang kuli dijalani dengan tidak ada perasaaan malu sama sekali. Dia mengangkut pasir dari sungai dengan gerobak dan menjualnya ke tempat pesanan. Bapak juga tidak menolak untuk dibayar sebagai kuli cat untuk melapisi tembok yang terbuat dari bambu (baca:gedek) padahal saat itu sedang bulan puasa. Saat lulus Sekolah STM listrik waktu itu ia mencari pekerjaan. Untuk menambah pengalaman kerja, Bapak mengikuti kursus menjahit pakaian. Beruntung waktu itu ada lowongan sebagai pegawai Negeri Sipil. Waktu itu peminat untuk menjadi Abdi Negara Pemerintahan Kota sangat sedikit, atau hampir tidak ada peminatnya, karena gajinya sangat kecil. Tempo itu juga tidak seperti sekarang yang mengharuskan untuk membayar 100-200 Juta kepada Oknum Walikota, Kemenpan, Polisi, Pegawai Negeri Sipil Perantara. Setelah masuk beliau bertugas sebagai pemutar film layar tancap di malam hari. Di departemen Penerangan (Sekarang bubar). Setiap hari berangkat kerja dengan jarak lebih dari 10 kilometer menggunakan sepeda pancal. Pernah waktu bertugas malam hari hujan pukul 12 Malam, Bapak berangkat dengan sepeda dalam kondisi hujan dan jalan yang gelap. Waktu itu belum ada penyediaan penerangan jalan. Hanya lampu yang melekat di sepeda dengan bantuan dinamolah yang menemani Bapak melaju terang. Bapak juga pernah mengikuti kuliah hukum di usia 40 tahunan di luar kota 4 hari seminggu dijalani. Di Universitas Panca Marga Probolinggo. Selama 4 tahun sampai lulus. Hingga akhirnya setelah menyelesaikan PIM 3 sekarang menjadi seorang Pejabat Eselon 3 (Setingkat Kepala Kantor) suatu badan pemerintahan dengan jalan kebenaran, bukan jalan kebeneran atau jalan kebetulan. Sekarang sedang memasuki tahun pensiun. Itulah sesingkat perjalanan hidup seorang Bapak. Bapakku.

Bapak tidak pernah sekali kali memukul ibu saya dari saat berkenalan sampai hari ini, itu kata Ibu. Bapak saya Pendiam. Saya lebih sering belajar dari contoh-contoh bagaimana beliau bersikap dan berperilaku. Jarang sekali Bapak saya menasehati saya secara langsung. Dari beliaulah saya belajar ilmu sosial. Karena Beliau sering mengajak saya kalau ada pertemuan Rembuk Warga Tahunan. Beliau seorang Ketua Rukun Warga yang orang-orang tidak mau jika beliau tidak menjadi Pak RW lagi. Mungkin ini sebabnya Bapak sudah menjadi RW selama lebih dari 10 tahun. Pernah suatu saat Bapak berkata kepadaku, bahwa banyak orang tidak mau menjadi RW di desa karena tidak ada gajinya, padahal Bapak ingin berhenti karena sudah lelah bukan karena tidak ada gajinya. Pernah Suatu saat ada masalah, banyak warga datang ke rumah, mereka hampir adu jotos parena persoalan tetangga yang sepele yaitu sampah. Akhirnya setelah ada pendamaian yang di bawa Bapak. Persoalan selesai.
Kegiatan rumah kebanyakan Bapak urus sendiri, Mulai mencuci motor, Mencuci Mobil, Mengurus Pekarangan, karena menurutnya itu adalah penghilang rasa stress maupun upaya untuk mengisi waktu yang terbuang sia-sia.

Suatu ketika ada teman kantornya datang, Ia adalah Staff bawahan Bapak, dan berkata “ Pak Wid itu bukan pekerjaan bapak (Mencabuti rumput dengan setengah telanjang atas) bapak kan levelnya sudah manajerial”, bapakku tertawa dan berkata “apakah ini hanya pekerjaan seorang kuli ?”. dari jauh saya berkata dalam hati “tamu itu baru tahu, kegiatan itu sudah dilakoni Bapak selama lebih 30 tahun” yang substansinya adalah Bapak sudah biasa melakukannya. Bapak berbobot 46-51 dengan tinggi 165cm. bobotnya dari dulu tetap sama, tidak pernah berubah. Betapa mungilnya dia. Namun dia tetap sehat dan mampu menyaingiku berenang lama, bangun mendahuluiku setiap saat, dan giat bekerja. Aku menjadi malu secara pribadi dengan tingkahku sendiri.

Saat orang membuat mushola di kampung-kampung dan waktu itu terlewati oleh kami (kira-kira 6 tahun lalu), ia berkata :”Buat apa mereka membangun mushola, padahal jarak masjid hanya 200 meter. Lebih baik berjamaah di masjid supaya jama’ahnya banyak”. Deg!, waktu itu, aku hanya mengunjungi masjid kalau ada acara besar dan sholat jum’at. Dengan ucapan Bapak, Aku menjadi termenung. Memang Bapak tidak pernah menyuruhku untuk sholat di masjid secara langsung, tapi Beliau melakukannya!. Ketika banyak langgar/mushola dekat rumah, Bapak lebih senang menuju masjid saat Sholat Isya’ dan Subuh karena pada saat Dhuhur beliau bekerja, asharnya mungkin lebih senang sholat sendiri, tetapi Maghribnya beliau langsung pimpin sendiri berjamaah di rumah.

Bersambung dulu ya…

Membaca selengkapnya...

by Novan D. Cahyono 0 comments

Saya Novan Dwi Cahyono , tidak akan sanggup untuk membuat negara menjadi bangkrut karena secara substansial aku tidak membayar dimuka untuk pengabdianku.


------------- Penyejuk Hati -----------
Pelayanan yang kita berikan kepada sesama itu sesungguhnya, sewa yang kita bayar untuk tempat di bumi ini. Jelaslah manusia itu menempuh perjalanan bahwa maksud dunia ini bukanlah untuk memiliki dan mendapatkan, melainkan untuk memberi dan melayani.

Program Baru

New Cool Tools !
Novs Creator (600Kb) , tools portable (tanpa install) multifungsi yang membuat computer system Windows bebas worm tanpa antivirus dan sejenisnya hanya dengan beberapa sentuhan. Membuat pengguna semakin pintar dengan Win@os, include : shell portable(command prompt), Autoruns, Rootkit Unhooker, Bobo Regedit. download , passwordnya : "infonovan" tanpa kutip, coba kehandalannya!

Subscribe feeds rss Berlangganan Artikel

Ketikkan E-mail Anda di sini untuk berlangganan artikel

Kategori Teknologi 2009 - 2010

Kategory

Subscribe Posting terakhir

Langganan komentar Komentar terbaru

Join in this Site


Berbincang